Woso
Walaupun hal itu sudah pernah terjadi sebelumnya,tapi entah kenapa malam itu terasa begitu spesial untuk diingatnya.
Hidup di rumah kontrakan dengan kondisi aliran air dijatah sehari dua kali dengan durasi setiap ngalir cuma sejam, membuat Woso dan istrinya harus pintar memanfaatkan jatah air yang didapatnya. Maklum,kontrakannya tidak punya tandon.
Ketika air keluar,secara otomatis istri Woso bergerak cepat mencuci semua peralatan rumah tangga yang kotor juga baju-baju mereka. Terutama baju Woso yang full bau keringat itu.
Dan istrinya mengingatkannya untuk cepat-cepat mandi agar tidak kehabisan air.
Jadwal air yang berubah setiap minggunya membuat Woso tak pernah ingat kapan persisnya air keluar. Sesuai jadwal atau tidak,tak pernah terlintas dipikirannya untuk dicermati.
Malam itu Woso pulang telat dari tempat kerja yang memang jauh dari rumahnya.
Alhasil, istrinya segera menyambutnya dengan membantu mencopotkan baju dan meminta paksa celana panjang dan celana dalamnya untuk ditukar dengan handuk yang sudah disiapkan.
"Segera mandi,airnya udah mau berhenti ngalir"istrinya berkata sambil berlalu ke tempat cucian.
Woso setengah berlari menuju ke kamar mandi dan mulailah ia beradegan seperti dalam film "Kungfu Hustle",dimana ia harus menyikat gigi,keramas dan menyabun badannya dalam satu gerakan cepat sebelum air berhenti mengalir....
****
Kereta komuter itu berhenti di Stasiun Kota.
Woso bergerak turun bersama ratusan kaum urban yang bertebaran di muka bumi pagi itu.
Woso kaget,dia baru sadar ternyata dia juga ingin cepat-cepat dan ingin jadi yang pertama keluar dari pintu itu.
Ia memperhatikan orang-orang disekelilingnya yang berjalan cepat. Mereka menuju angkot dan bis yang mangkal di depan stasiun ini. Ada juga yang berlarian mencari ojek. Begitu ketemu langsung melonjat di jok belakang dan meminta pak ojek segera ngebut.
Yang berkantong sedikit tebal,menyetop taksi. Menikmati dinginnya AC dan bisa santai sejenak di kursi belakang.
Woso merasa beruntung, kantor tempatnya bekerja tak jauh dari stasiun. Cukup jalan 5 menit ia sudah sampai. Woso cengengesan sendiri,lalu kenapa dia tadi terburu dan ikut berdesakan di pintu keluar stasiun? Toh ia belum terlambat masuk kerja.
Rasanya kota ini sudah mengubahnya. Membentuk karakter baru dalam dirinya.
Semuanya harus serba cepat. Kalau tidak,kata orang bisa diembat.Cepat dalam pengambilan keputusan. Cepat pelayanannya. Cepat pengurusannya. Cepat gajiannya. Ketika naik motor harus cepat zig zagnya. Termasuk cepat berpikirnya. Cepat naik pangkatnya. Dan....bisa cepat-cepat beli rumah.
Hmm..Woso terhenyak. Beli rumah? Aku kan karyawan rendahan,batinnya.Gimananya caranya naik pangkat?Gimana bisa dapetin gaji besar? Secepat-cepatnya dia berpikir,secepat itu pula kepalanya pusing....Dan kepalanya bertambah berat ketika diingatnya hari ini tugasnya belum selesai dan terpaksa harus pulang terlambat ke rumah.
Malam ini dia harus ber-Kungfu Hustle lagi.
Komentar