Jogja New Career?
5.30 pagi.
Raungan gitar Eet Sjahranie memenuhi kabin mobilku. Membuatku tetap terjaga. Melewati jalan berbelok lepas Ambarawa. Banaran ada di depan mata.
Setelah hampir 7 tahun berpeluh mencari lembar rupiah di kota Lumpia. Awal November ini menjadi pengingat perjalanan karirku menuju kota Gudeg.
2 minggu yang lalu..
Istriku sempet terbengong ketika kuceritakan tawaran dari Pusat untuk pindah. Sejenak kemudian senyumnya sudah tersurat di wajahnya yang ayu. Dan berujar,
"Tidak apa-apa,terima saja tawaran itu. Mungkin jalan kita memang harus begini. Rezeki Tuhan ada dimana saja,asal kita mau berusaha. Sabar dan jalani saja. Dengan begitu kita akan lebih menghargai hidup dan mensyukuri segala apa yang kita punya."
Saat aku menunjukkan keberatan berpisah dengannya,lanjutnya,"Kita hanya berpisah secara fisik,namun doa ,cinta dan hati akan selalu berjalan bersama."
Kualihkan pandanganku ke Si Kriwul yang lagi nonton teve. Gadis 6 tahun itu duduk melorot di kursi sambil terkekeh menonton tayangan kartun.
Berat hati aku menceritakan kepadanya. Sesak dadaku harus bilang kepadanya. Bahwa ada kenyataan di depan mataku harus ketemu dengannya hanya 2 hari dalam seminggu.
"Jadi Papa kerja dan baru pulang sabtu atau minggu ya? kok lama ya Papa nyari uang buat beli susunya?" begitu kata-kata yang meluncur polos dari Si Kriwul ketika pada akhirnya dia kupangku di depan teve dan kuceritakan mengenai rencana kepindahanku.
Kriwul sudah terbiasa dengan ketidakhadiranku pagi sampai sore.
Kriwul tahu,aku pergi untuk membeli susu kegemarannya.
Nyari uang untuk beli susu,selalu begitu yang dia bilang jika ada orang atau tetangga yang bertanya tentangku.
6.20 pagi.
Memasuki Secang. "Wish you were here"nya Incubus mengganti kegarangan Eet. Kuambil sebatang Dji Sam Soe dan kunyalakan. Kubuka kaca jendela untuk merasakan udara pagi masuk ke kabin.
Masih ada sejumput kekesalan di hati,kenapa aku harus bangun pagi,berkendara sekian ratus kilometer dan berpisah dengan anak istri...untuk sekian lembar rupiah.
Asap tembakau terhempas di kaca depan.
Kenapa aku jadi mengeluh begini.
Bandingkan dengan Pak Tono tetanggaku yang pelayar itu.
Baru berbulan-bulan dia bisa menjumpai anak istrinya sebelum pergi lagi berlayar dan hanya laut sepanjang yang bisa dia lihat.
Bandingkan dengan 2 harimu itu!
Hidup tak hanya sekedar mengumpulkan lembar rupiah.
Bekerja adalah ibadah.
Rupiah hanyalah bentuk akhirnya saja.
Prosesnya adalah bentuk ketaatanmu terhadap Sang Maha Pemberi Rahmat.
Bersyukur jauh lebih mudah daripada mengeluh tanpa solusi.
7.30 pagi.
Jembatan Tempel sudah kelihatan.
Itu berarti 5 hari lagi aku baru bisa ketemu Si Kriwul.
"Pa, jangan lama-lama ya beli susunya".
=====================================
Cafe Banaran, November 2009.
Komentar
Tenang saja, pasti ada jalan kok...
lagipula jaraknya masih dekat kan? tidak sampai pisah pulau...
Tetap semangat ya...
Ganbatte ne!!!