Selasa, 06 Juli 2010

Dendam

Amarah tertahan menjadi dendam.
Bagai sekam dalam badan.
Menggerogoti kebajikan.
Menunda kebaikan.

Lepasin, Ing...
Jangan terlalu lama di pendam.
Silaturahmimu bisa padam.

Forget it ,Man...
Don't waste your life.
Don't live in vain.


Sabar,Ilmi.
Jika tidak begitu kau tidak akan tahu siapa mereka.

Everything happens for a reason.

========
Jember,1996.

Rabu, 16 Juni 2010

"Konsepmu gak jelas!"

Hari masih cukup pagi.

Kabut dan sinar matahari saling berebut menunjukkan pesonanya.

Aku duduk di trotoar.

Asap filter bergoyang di depan mataku.

Kupandangi Jupiter Zku.

Luka parut memanjang dibody atas lampu depan. Juga disayap kiri. Sayap kanan mendingan,cuma patah seukuran dua jari. Lampu sein kanan pecah dan seonggok lumpur tampak menggantikan posisinya.

Stang kemudinya berubah arah. Foot step kanan dan rem belakang bengkok keatas.

Kenapa tadi bisa nabrak ya?

Apa aku ngantuk ,ngelamun atau terlalu deket sama pick up di depan?


Harus begini kah jalan hidupku?
Beginikah konsepku?
***

"The taxi will be here in a minute" sambil tersenyum gadis itu berkata kepadaku. Cowok disebelahnya memegang senter,juga tersenyum kepadaku. Keduanya adalah mahasiswa yang sedang shift menjaga accommodation in campus di lingkungan Charles Darwin University. Mereka membantuku menelpon perusahaan taxi untuk memastikan aku dijemput.
"Thank you very much for your kind help" aku sedikit menganggukkan kepala ke mereka.
Kemudian mereka berpamitan untuk berkeliling.
Kekhawatiran yang sempat muncul, kalau taxi yang menjemputku ke bandara nggak muncul atau terlambat,sekarang sudah berkurang. Wajar saja, ini pertama kalinya aku berada di negeri orang,ditengah malam pula! Namun kalau ingat segala pengalaman yang menyenangkan selama di sini,semua kekuatiran menguap begitu saja.

Ketika taxi benar-benar muncul,aku hampir berteriak kegirangan.
Sebentar lagi aku pulang. Kabar dari rumah,Ibu sakit keras.
Kangen,sedih bertabrakan dalam hati.
Dan setelah beberapa jam penerbangan terwujud juga aku bertemu dengannya.
Wajah kuyu dan terlihat tua dari umurnya menyambutku.
Itulah wajahnya terakhir kulihat.

Seminggu berikutnya aku harus pulang lagi,untuk menghadiri pemakamannya.
***

Kujabat erat tangan Bu Dhani. Setelah menerima akte rumah dan dokumen jual belinya. Puas rasanya akhirnya aku bisa beli rumah. Akhirnya bisa memberikan tempat berteduh yang pasti untuk Kriwul dan Emaknya.

Tak berapa lama hapeku bunyi. Jakarta menawari untuk pindah kerja.
Aku harus mengiyakan,karena memang aku tertarik.

Malem hari ketika aku santai menikmati susu hangat,datang istriku membisikiku,
" Pap,Kriwul mau punya adik lho".
Duh,lemes aku. Baru aja aku pingin settle,sudah harus move on lagi.
Ingin bermanja dengan mereka. Namun sudah harus terpisah.....
***

Kenapa,
Baru saja kuhirup dinginnya angin Australia di bulan July,it was the first time in my life!,tapi hembusan angin diantara bunga Kamboja ini sebagai penutup cerita?

Kenapa,
Aku dengan susah payah mencengkeram erat kebersamaan ini,just bought a house for us!,tapi dipisahkan oleh sebuah tawaran ego?
***

Siapa yang tidak berkonsep jelas?

Tidak mungkin Engkau. Engkau adalah Maha Benar.

Mustahil jika Kau. Kau adalah Maha Sempurna.

Dengan segala kerendahan hati dan kehinaan diri,kumohon ampunan-MU.
Akulah sumber kebodohanku sendiri.
Bimbinglah aku Sang Maha Pengasih.
***

Kutunggangi si Jupiter Z.
Melaju menembus kabut ,menyambut hangat matahari.

Jelas atau tidak konsepku,kenyataan inilah yang sekarang aku harus hadapi,selesaikan dan kalau perlu aku lupakan.
=====================
Secang,Dec 2009.




Senin, 19 April 2010

Kata orang,Nico seorang Bajingan


Sore yang mendung.
Nico berjalan lemas menuju pintu rumah. Jaket di gengaman tangan kirinya terseret menyapu tanah. Tangan kanannya tampak filter berasap tinggal setengah. Kepalanya pening sekali.

Mamanya yang sedang duduk dan membaca majalah di teras, mengeryitkan dahi melihat anak laki-lakinya tak bersemangat begitu.
"Kamu dari mana Nico? Kenapa kamu? "tanya wanita itu pelan.
Nico tergagap mendengar suara mamanya.
Aduh,harusnya aku tahu kalau jam segini mama ada di teras rumah,batinnya. Kepalanya semakin berat.
Nico mengangkat tangan kanannya,melihat arloji. Busyet! udah hampir jam 5 sore. Berarti dia sudah hampir 24 jam pergi dari rumah.
"Nico, kamu kenapa? kok nggak menjawab omongan mama?" wanita itu kembali mengulangi kata-katanya. Kali ini suaranya agak sedikit diperkeras. Mungkin anakku melamun sampai tidak mendengar kata-kataku, batin wanita yang sudah menjadi single parent sejak 10 tahun lalu.
"Oh,ehm..Nico dari rumah teman, Ma. Nico ngantuk,semalem begadang ngobrol sama teman lama. Nico mandi dulu ya,Ma", Nico hampir tak berani menoleh ketika menjawab.
Dihisapnya filter dan melangkah hati-hati masuk rumah.
Laki-laki muda itu tidak mau ambruk didepan wanita yang dikasihinya.
Tidak mau membuatnya kuatir.
Tidak mau menyakitinya.
Padahal Nico baru saja berbohong padanya.
***
"Ayo Nic, kita cabut. Udah ditunggu temen-temenku tuh" teriak Irfan sambil melempar bungkus rokok ke arahnya. "Ngelamun aja" lanjutnya.
Irfan temennya semasa sekolah SMP dulu. Mengajaknya ke diskotik.
Hal yang belum pernah dirasakan Nico sebelumnya. Ada keraguan berdesir di dadanya.
Diskotik?Ngapain lagi si Irfan mengajak kesana.
Tanpa disadari dia sudah berada di hardtop milik Junod,temen Irfan. Nico duduk dibelakang berhadapan dengan Andi,yang datang bersama Junod. Irfan meloncat di bangku depan. Berempat mereka melaju di jalan kota yang basah oleh hujan yang jatuh sejak sore.
"Ntar kita nyoba ya Fan,kamu yang traktir kali ini' suara Junod terdengar jelas disela suara mesin menderu hardtop.
"Beres" Irfan menyahut sambil mengacungkan jempol.
"Nico harus mencicipi juga tuh" Andi menambahi sambil cengegesan.
"Apaan sih?' Nico kebingungan. Perasaannya tidak enak.
"Tenang aja,ntar juga tahu sendiri"Irfan menyergah.
Jam sebelas malam.
Ruangan itu cenderung gelap. Musik bingar dan menghentak. Lampu warna warni berkilatan.
Junod larut di lantai disko. Andi malah sudah bergelayutan dengan seorang wanita. Sedang Irfan asyik dengan filter dan minumannya.
Nico mencoba menikmati keadaan. Selama ini semuanya hanya dia lihat di film. Kini terpampang di depan mata.
Tiba-tiba Junod sudah datang di hadapannya. Sambil merangkul wanita muda yang kelihatan belahan dadanya," Nih Fan,pesenan kamu"
Tangan Junod mengangsurkan sesuatu digengamannya. Irfan cepat menerimanya dan memasukkan ke kantong jaketnya.
Nico mencoba mengamati. Tapi wanita yang bersama Junod menyentuh pipinya" Baru ya kesini,kok nggak pernah kelihatan."
Nico salah tingkah.Mencoba membetulkan letak duduknya.
Irfan memegang tangan kiri Nico,"Ini,ambil dan cepet telan. Enak dibadan kalau buat begadang"
Nico melihat ke telapaknya, menajamkan penglihatan.Sebuah pil warna biru.
"udah cepetan gih ditelan..."Irfan memaksa ketika dilihatnya Nico masih bengong.
Pil itu meluncur masuk ke tenggorokan. Nico menenggak soft drinknya.
Irfan tersenyum.
Andi datang dari arah samping kanan." Ayo Nic...melantai sana. Nih bawa aja Rena" katanya sambil menarik Nico dari tempat duduk dan mendorongnya ke arah wanita yang dia sebut Rena itu.
Nico menurut aja ketika Rena melingkarkan tangannya yang mulus di leher Nico. Mengelayut,bergoyang dengan musik yang tak karuan terdengar. Mengikuti gerakan Rena yang bergerak tak beraturan. Melihat tubuhnya yang dibalut tank top dan rok jeans pendek,Nico benar-benar seperti tersihir.
Dan malam itu,entah, Nico begitu menikmatinya. Tertawa lepas. Badannya bergerak mengikuti musik ke segala arah. Seperti ada yang membisikinya untuk terus tertawa dan tertawa.
Irfan mengganti minuman ringan Nico dengan minuman beralkohol.
Nico tanpa ragu menenggaknya. Sebentar terbengong,melihat gelasnya,beralih pandangannya ke Irfan dan tertawa.
***
Malam sudah tua ketika Nico membuka mata.
Dilihatnya tubuh wanita yang mendengkur halus tanpa busana disampingnya.
Hah Rena!
Nico kaget mendapati dirinya juga polos. Celana dan Jacket jeansnya berserakan di lantai deket pintu. Gila!
Nico meloncat dari tempat tidur,tapi kepalanya berat membebani hingga dia terjatuh.
Tergesa dan sebisanya dikenakannya baju dan celana. Sempoyongan keluar dari kamar itu.
Nico bingung harus kemana. Irfan,Junod dan Andi sudah tak terlihat.
Samar dilihatnya,sialan ini hotel kelas melati!
Kakinya bergegas beranjak keluar dari tempat itu.
Seluruh badannya serasa remuk. Dihempaskan pantatnya di trotoar. Secepat itu,kepalanya berputar hebat. Muntah, mengeluarkan isi perutnya di pinggir jalan sepi itu.
Apa yang terjadi padaku? tanyanya disela-sela napas yang tersenggal.
Nico memaki-maki dirinya sendiri. Tubuhnya tak kuat berdiri.
Pasrah tergolek dipinggir jalan. Pulas tertidur.
***
Panas membuatnya terbangun. Ya ampun,dimana ini?
Beberapa orang melewatinya. Berguman. Mengira dirinya adalah gelandangan atau preman yang mabuk. Nico mencoba mengumpulkan sisa-sisa kekuatan untuk berdiri dan berjalan. Matahari siang membuat badannya tambah lemas.
Sepanjang jalan Nico mencoba mengingat dan memahami apa yang terjadi semalam.
Apakah aku berbuat sudah kelewat batas? Apa ini perbuatan Irfan?
Tiga jam berjalan Nico sampai diujung gang rumahnya yang sempit.
Terduduk di tembok yang lusuh. Menyalakan filternya.
Menyadari bahwa dia sudah melakukan hal-hal yang tak pernah di bayangkan sebelumnya.
Batinnya berontak. Menangis diantara dekapan dua kakinya.
Kenapa aku bisa begini? kenapa ini terjadi padaku?
***
Sebulan setelah itu. Nico sudah jarang terlihat di rumah.
Kerjaannya nongkrong di terminal ujung kota. Bergaul dengan pemalak dan preman.
Tidur dan makan di warung terminal menjadi kelakuannya tiap hari. Wanita malam menjadi teman setianya. Judi adalah hobinya satu-satunya. Dan alkohol meluncur bebas setiap saat di tenggorokannnya.
Nico dikenal sebagai seorang Bajingan di lingkungan terminal. Lebih gila,lebih kasar dari para "seniornya"
Ternyata,Nico menghukum dirinya. Tidak memaafkan dirinya. Menurutnya tempat itu lebih pantas daripada rumahnya.
Lebih hina, lebih getir dilakoninya. Daripada jika harus berhadapan dengan Mamanya.
Tak kuat memandang sorot tenang mata Mamanya. Tak mampu menyenangkannya.
Tak berani jika wanita tercintanya itu harus tahu perbuatannya malam itu.
Padahal diujung kota, disebuah gang sempit,dirumah kecilnya, Sang Mama selalu menangis dalam doanya.
Agar Nico kembali dalam pelukannya.
Pulanglah Nico.
============
Surabaya,1997-1999.

Selasa, 09 Februari 2010

Jogja New Career?


5.30 pagi.
Raungan gitar Eet Sjahranie memenuhi kabin mobilku. Membuatku tetap terjaga. Melewati jalan berbelok lepas Ambarawa. Banaran ada di depan mata.
Setelah hampir 7 tahun berpeluh mencari lembar rupiah di kota Lumpia. Awal November ini menjadi pengingat perjalanan karirku menuju kota Gudeg.

2 minggu yang lalu..
Istriku sempet terbengong ketika kuceritakan tawaran dari Pusat untuk pindah. Sejenak kemudian senyumnya sudah tersurat di wajahnya yang ayu. Dan berujar,
"Tidak apa-apa,terima saja tawaran itu. Mungkin jalan kita memang harus begini. Rezeki Tuhan ada dimana saja,asal kita mau berusaha. Sabar dan jalani saja. Dengan begitu kita akan lebih menghargai hidup dan mensyukuri segala apa yang kita punya."
Saat aku menunjukkan keberatan berpisah dengannya,lanjutnya,"Kita hanya berpisah secara fisik,namun doa ,cinta dan hati akan selalu berjalan bersama."

Kualihkan pandanganku ke Si Kriwul yang lagi nonton teve. Gadis 6 tahun itu duduk melorot di kursi sambil terkekeh menonton tayangan kartun.
Berat hati aku menceritakan kepadanya. Sesak dadaku harus bilang kepadanya. Bahwa ada kenyataan di depan mataku harus ketemu dengannya hanya 2 hari dalam seminggu.
"Jadi Papa kerja dan baru pulang sabtu atau minggu ya? kok lama ya Papa nyari uang buat beli susunya?" begitu kata-kata yang meluncur polos dari Si Kriwul ketika pada akhirnya dia kupangku di depan teve dan kuceritakan mengenai rencana kepindahanku.
Kriwul sudah terbiasa dengan ketidakhadiranku pagi sampai sore.
Kriwul tahu,aku pergi untuk membeli susu kegemarannya.
Nyari uang untuk beli susu,selalu begitu yang dia bilang jika ada orang atau tetangga yang bertanya tentangku.

6.20 pagi.
Memasuki Secang. "Wish you were here"nya Incubus mengganti kegarangan Eet. Kuambil sebatang Dji Sam Soe dan kunyalakan. Kubuka kaca jendela untuk merasakan udara pagi masuk ke kabin.
Masih ada sejumput kekesalan di hati,kenapa aku harus bangun pagi,berkendara sekian ratus kilometer dan berpisah dengan anak istri...untuk sekian lembar rupiah.

Asap tembakau terhempas di kaca depan.
Kenapa aku jadi mengeluh begini.

Bandingkan dengan Pak Tono tetanggaku yang pelayar itu.
Baru berbulan-bulan dia bisa menjumpai anak istrinya sebelum pergi lagi berlayar dan hanya laut sepanjang yang bisa dia lihat.
Bandingkan dengan 2 harimu itu!
Hidup tak hanya sekedar mengumpulkan lembar rupiah.
Bekerja adalah ibadah.
Rupiah hanyalah bentuk akhirnya saja.
Prosesnya adalah bentuk ketaatanmu terhadap Sang Maha Pemberi Rahmat.
Bersyukur jauh lebih mudah daripada mengeluh tanpa solusi.

7.30 pagi.
Jembatan Tempel sudah kelihatan.
Itu berarti 5 hari lagi aku baru bisa ketemu Si Kriwul.
"Pa, jangan lama-lama ya beli susunya".
=====================================
Cafe Banaran, November 2009.

Kamis, 27 Agustus 2009

Kalau rezekiku cuma segitu...


Kuparkir New Eyesku digarasi.
Sambil memencet tombol remote penguncinya,kuambil Javelinku disaku baju. Ada message masuk di FB, seorang teman ngajak nongkrong.
Aku cuekin ajakannya,bahkan aku males ngebales messagenya.

Kulangkahkan kaki menuju pintu belakang garasi. Pintu yang menembus langsung ke kolam renang. Kulepas Nikeku,aku duduk dipinggir kolam dan kutenggelamkan kakiku.

Kupanggil Bi Inah,"Kopi Susu,Bi" teriakku ketika dia udah keliatan diujung pintu dapur.

Tak sabar ku tarik Dji Sam Soe dari saku jaket dan menyalakan sebatang dengan panasnya nyala Zippo. Kuhempaskan nafas beratku seketika dan asap kretek berhamburan menabrak air kolam. Kupandangi bayangan wajahku yang bergoyang-goyang di permukaan air.
Labil,tidak jelas dan berantakan.

Sejalan dengan pikiranku yang masih berlari berputar dengan kejadian sejam yang lalu.Ketika hampir aja New Eyesku menyambar penjual jeruk Bali yang nyelonong diperempatan sepi. Aku turun dan siap melampiaskan marahku,tapi si bapak tua penjual jeruk Bali itu,sudah menyapaku dengan permintaan maafnya. Ternyata rem sepeda onthelnya rusak dan diperempatan yang agak menurun itu,sepedanya sukses nyelonong aja...

Dan menit berlalu dengan obrolan kami di pinggir jalan.
menurut pengakuannya,dia sudah berjualan lebih dari 10 tahun. Berkeliling dengan sepedanya menawarkan jeruk Bali untuk membiayai keluarganya. Seorang istri dan 3 orang anak yang masih duduk dibangku SD menanti uang hasil keringatnya,untuk dibawa pulang.

Aku terenyuh. Dengan hasil yang tak seberapa untuk ukuran kehidupan saat ini,si bapak tua ini masih semangat mengayuh sepedanya. Demi menyuapi keluarganya.
Berbeda denganku.
Aku dengan mudahnya bisa mendapatkan tender properti bernilai ratusan juta hingga miliaran rupiah. Jelas laba sudah terkantongi sekian ratus juta sehari. tapi bapak ini?

"Kalau memang rezeki saya segitu,saya ikhlas. yang penting bisa membawa uang untuk makan dan biaya sekolah anak-anak dengan cara yang halal. Saya pasrahkan dengan Tuhan hasil saya hari ini,yang utama....saya sudah berusaha dan bekerja sebaik-baiknya" ujarnya ketika kutanya berapa pendapatannya perhari.

Jadi jika hari ini aku hanya,-sekali lagi-, HANYA mendapatkan 40 juta dari tender yang kunilai tidak sukses,lalu....betapa tidak bersyukurnya aku dibandingkan bapak ini!

Bi Inah datang dengan secangkir kopi susu.
"Bi,tolong pindahin jeruk Bali di bagasi mobil." kataku sambil menyerahkan kunci New Eyes padanya.
Entah,betapa kagetnya Bi Inah nanti ketika bagasiku penuh dengan jeruk Bali.
Yang penting aku puas dengan memborong dagangan si bapak tua itu.
Tak kuperdulikan berapa ratus ribu lembar rupiah yang berpindah dari dompetku ke tangan si bapak tua.
Yang penting kulihat senyum mengembang si bapak dan dia bisa cepat-cepat pulang untuk keluarganya dan membeli sepeda onthel baru.

Rasanya,cukuplah sebanding ketidak suksesanku hari ini dengan guyuran kata-kata bijak dari si bapak.
Rasanya,tak ada artinya 40 juta,jika aku tak bersyukur dihadapan Tuhanku.

Jika memang rezekiku cuma segitu....kataku dalam hati. =====================================

Selasa, 16 Juni 2009

Woso

Woso tersenyum mengingat kejadian tadi malam.

Walaupun hal itu sudah pernah terjadi sebelumnya,tapi entah kenapa malam itu terasa begitu spesial untuk diingatnya.

Hidup di rumah kontrakan dengan kondisi aliran air dijatah sehari dua kali dengan durasi setiap ngalir cuma sejam, membuat Woso dan istrinya harus pintar memanfaatkan jatah air yang didapatnya. Maklum,kontrakannya tidak punya tandon.
Ketika air keluar,secara otomatis istri Woso bergerak cepat mencuci semua peralatan rumah tangga yang kotor juga baju-baju mereka. Terutama baju Woso yang full bau keringat itu.
Dan istrinya mengingatkannya untuk cepat-cepat mandi agar tidak kehabisan air.
Jadwal air yang berubah setiap minggunya membuat Woso tak pernah ingat kapan persisnya air keluar. Sesuai jadwal atau tidak,tak pernah terlintas dipikirannya untuk dicermati.

Malam itu Woso pulang telat dari tempat kerja yang memang jauh dari rumahnya.
Alhasil, istrinya segera menyambutnya dengan membantu mencopotkan baju dan meminta paksa celana panjang dan celana dalamnya untuk ditukar dengan handuk yang sudah disiapkan.
"Segera mandi,airnya udah mau berhenti ngalir"istrinya berkata sambil berlalu ke tempat cucian.
Woso setengah berlari menuju ke kamar mandi dan mulailah ia beradegan seperti dalam film "Kungfu Hustle",dimana ia harus menyikat gigi,keramas dan menyabun badannya dalam satu gerakan cepat sebelum air berhenti mengalir....

****
Kereta komuter itu berhenti di Stasiun Kota.

Woso bergerak turun bersama ratusan kaum urban yang bertebaran di muka bumi pagi itu.
Kegiatan yang 6 hari dalam seminggu ia lakukannya sejak menginjakkan kaki di kota ini 9 tahun lalu.
Tergesa menuju pintu keluar stasiun agar tak kembali berdesakan. Fuiih,kenapa semuanya tergesa dan tidak mau mengantri? kenapa semua orang meminta nomor satu?
Woso kaget,dia baru sadar ternyata dia juga ingin cepat-cepat dan ingin jadi yang pertama keluar dari pintu itu.

Ia memperhatikan orang-orang disekelilingnya yang berjalan cepat. Mereka menuju angkot dan bis yang mangkal di depan stasiun ini. Ada juga yang berlarian mencari ojek. Begitu ketemu langsung melonjat di jok belakang dan meminta pak ojek segera ngebut.
Yang berkantong sedikit tebal,menyetop taksi. Menikmati dinginnya AC dan bisa santai sejenak di kursi belakang.

Woso merasa beruntung, kantor tempatnya bekerja tak jauh dari stasiun. Cukup jalan 5 menit ia sudah sampai. Woso cengengesan sendiri,lalu kenapa dia tadi terburu dan ikut berdesakan di pintu keluar stasiun? Toh ia belum terlambat masuk kerja.

Rasanya kota ini sudah mengubahnya. Membentuk karakter baru dalam dirinya.
Semuanya harus serba cepat. Kalau tidak,kata orang bisa diembat.Cepat dalam pengambilan keputusan. Cepat pelayanannya. Cepat pengurusannya. Cepat gajiannya. Ketika naik motor harus cepat zig zagnya. Termasuk cepat berpikirnya. Cepat naik pangkatnya. Dan....bisa cepat-cepat beli rumah.
Hmm..Woso terhenyak. Beli rumah? Aku kan karyawan rendahan,batinnya.Gimananya caranya naik pangkat?Gimana bisa dapetin gaji besar? Secepat-cepatnya dia berpikir,secepat itu pula kepalanya pusing....Dan kepalanya bertambah berat ketika diingatnya hari ini tugasnya belum selesai dan terpaksa harus pulang terlambat ke rumah.

Malam ini dia harus ber-Kungfu Hustle lagi.

Duh...!

Senin, 25 Mei 2009

Egois


Apa benar aku egois?


Ya,begitu katamu.

Ingin aku aku menjerit dan menangis. Tak kupercaya kenyataan yang kudengar darimu.

Dan aku berlari menjauh,sejadi-jadinya.
Baru berhenti ketika kaki ini sudah berdarah dan bernanah.
Namun kenyataan tak berubah. Aku tetap manusia egois.

Ketika kau tak pulang,aku menunggu sambil berdoa supaya kau baik-baik saja diluar sana.Dan kembali padaku. Dalam dekapanku. .
Tapi kau begitu egois,ternyata kau lebih memilih sesuatu yang maya dari pada nyata.
Begitu katamu suatu malam.

Pintamu di lain malam,
Kembalilah padaku, berbagilah padaku.
Tapi kau masih suka berlari dalam duniamu sendiri. Membagi resahmu pada langit kelam.

Ada aku disini,katamu lagi.
Tapi kau masih bercengkerama dengan kegalauanmu sendiri.

Kau menambahkan,
Reguklah aku,cecap aku dan rasakan hangat kasih sayangku.
Tapi kau lebih memilih kopi dingin dan kecut yang menemanimu merenung.

Masih belum percaya kalau kamu egois?
Berapa banyak waktu kau sia-siakan untuk memahami kenyataan yang ada didepanmu?

Sadarilah, yang kau PUNYA lebih banyak daripada yang HILANG.
Mengertilah,curahan kasih sayang LEBIH sudah kau genggam,jangan kau LEPASkan.
Pahamilah,egoismu sudah tak wajar.
Kembalilah padaku.....,begitu katamu sambil mengelus kepalaku.

Aku tertunduk. Ingin berlari,tapi kau memegangi pundakku.
menyandarkannya di dadamu.
Katamu lagi, tanggung jawabmu sudah bertambah besar sekarang,jangan kau hancurkan kenyataan ini.
Jika sudah tiba waktumu ditanya olehNYA,kamu mau bilang apa?

Sungguh.....egoisku ditundukkan oleh ketidak egoisanmu, malam ini.

Love you,my soulmate.