Kalau rezekiku cuma segitu...
Kuparkir New Eyesku digarasi.
Sambil memencet tombol remote penguncinya,kuambil Javelinku disaku baju. Ada message masuk di FB, seorang teman ngajak nongkrong.
Aku cuekin ajakannya,bahkan aku males ngebales messagenya.
Kulangkahkan kaki menuju pintu belakang garasi. Pintu yang menembus langsung ke kolam renang. Kulepas Nikeku,aku duduk dipinggir kolam dan kutenggelamkan kakiku.
Kupanggil Bi Inah,"Kopi Susu,Bi" teriakku ketika dia udah keliatan diujung pintu dapur.
Tak sabar ku tarik Dji Sam Soe dari saku jaket dan menyalakan sebatang dengan panasnya nyala Zippo. Kuhempaskan nafas beratku seketika dan asap kretek berhamburan menabrak air kolam. Kupandangi bayangan wajahku yang bergoyang-goyang di permukaan air.
Labil,tidak jelas dan berantakan.
Labil,tidak jelas dan berantakan.
Sejalan dengan pikiranku yang masih berlari berputar dengan kejadian sejam yang lalu.Ketika hampir aja New Eyesku menyambar penjual jeruk Bali yang nyelonong diperempatan sepi. Aku turun dan siap melampiaskan marahku,tapi si bapak tua penjual jeruk Bali itu,sudah menyapaku dengan permintaan maafnya. Ternyata rem sepeda onthelnya rusak dan diperempatan yang agak menurun itu,sepedanya sukses nyelonong aja...
Dan menit berlalu dengan obrolan kami di pinggir jalan.
menurut pengakuannya,dia sudah berjualan lebih dari 10 tahun. Berkeliling dengan sepedanya menawarkan jeruk Bali untuk membiayai keluarganya. Seorang istri dan 3 orang anak yang masih duduk dibangku SD menanti uang hasil keringatnya,untuk dibawa pulang.
Aku terenyuh. Dengan hasil yang tak seberapa untuk ukuran kehidupan saat ini,si bapak tua ini masih semangat mengayuh sepedanya. Demi menyuapi keluarganya.
Berbeda denganku.
Aku dengan mudahnya bisa mendapatkan tender properti bernilai ratusan juta hingga miliaran rupiah. Jelas laba sudah terkantongi sekian ratus juta sehari. tapi bapak ini?
"Kalau memang rezeki saya segitu,saya ikhlas. yang penting bisa membawa uang untuk makan dan biaya sekolah anak-anak dengan cara yang halal. Saya pasrahkan dengan Tuhan hasil saya hari ini,yang utama....saya sudah berusaha dan bekerja sebaik-baiknya" ujarnya ketika kutanya berapa pendapatannya perhari.
Jadi jika hari ini aku hanya,-sekali lagi-, HANYA mendapatkan 40 juta dari tender yang kunilai tidak sukses,lalu....betapa tidak bersyukurnya aku dibandingkan bapak ini!
Bi Inah datang dengan secangkir kopi susu.
"Bi,tolong pindahin jeruk Bali di bagasi mobil." kataku sambil menyerahkan kunci New Eyes padanya.
Entah,betapa kagetnya Bi Inah nanti ketika bagasiku penuh dengan jeruk Bali.
Yang penting aku puas dengan memborong dagangan si bapak tua itu.
Tak kuperdulikan berapa ratus ribu lembar rupiah yang berpindah dari dompetku ke tangan si bapak tua.
Yang penting kulihat senyum mengembang si bapak dan dia bisa cepat-cepat pulang untuk keluarganya dan membeli sepeda onthel baru.
Rasanya,cukuplah sebanding ketidak suksesanku hari ini dengan guyuran kata-kata bijak dari si bapak.
Rasanya,tak ada artinya 40 juta,jika aku tak bersyukur dihadapan Tuhanku.
Jika memang rezekiku cuma segitu....kataku dalam hati. ============================(based on true story of my life).
Komentar